Rabu, 02 Oktober 2013

Jawaban PR (public relation)



A.    Jawaban Soal Kasus
1.      Kasus 1
Dalam menangani masalah yang terjadi di PT. Sukaribut yang beroperasi dibidang emas, yang dianulir oleh masyarakat karena menyebabkan kejadian/problem berupa pencemaran air sehingga menyebabkan masyarakat sekitar mengalami gatal-gatal. Problem besar lainnya yang menjadi kendala bahwa masyarakat berniat untuk berdemonstrasi kepada PT. Sukaribut.
Untuk hal ini, maka peran humas sangat urgren, karena tanggung jawab dalam intern organisasi yang bersangkutan dengan dunia luar adalah tanggung jawab dari humas. Yakni bagaimana untuk meredam dan mengkondisikan kedua belah pihak. Yaitu pihak dari PT. Sukaribut sebagai organisasi yang menjadi tanggung jawabnya dan masyarakat sebagai korban dari organisasi yang dijalankannya.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh humas, yaitu bisa merujuk pada pendapat dari  Canfield dalam menerapkan fungsi humas yang menggunakan beberapa tahap. Tahap yang pertama yakni, menunjang aktifitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama, dalam hal ini bila dikaitkan dengan konflik yang ada antara PT. Sukaribut dan masyarakat, bagaimana peran humas bisa mensinkronkan antara keduanya. Kata lainnya bagaimana organisasi dan masyarakat bisa selaras dan tidak ada yang dirugikan satu sama lainnya, tentunya dengan cara harus membangun komunikasi positif yang terbuka.
Kedua, yakni membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan publiknya sebagai khalayak sasaran. Tahap yang kedua ini, ialah bagaimana seharusnya, PT. Sukaribut mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Untuk itu humas harus berperan sebagai fasilitator dan menjadi penengah untuk memberikan gambaran bahwa organisasi ingin melakukan hal yang terbaik pada masyarakat. Begitu juga dalam kalangan masyarakat, humas seharusnya bisa mempengeruhi masyarakat dengan tujuan baik tersebut. Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan pertemuan antara badan/organisasi dengan salah satu masyarkat yang berpengaruh serta memaparkan keadaan yang terjadi sehingga nantinya bisa diharapkan solusi bersama.  
Ketiga, tanggung jawab humas yakni bisa mengidentifikasi masalah yang terjadi antara PT. Sukaribut dengan masyarakat, dalam hal ini peran humas bisa mengelolah opini, persepsi, tanggapan masyarakat dan hal lainnya. Pemilah yang dilaksanakan oleh humas seyogyanya bisa mengidentifikasi dan mencari peta pada tatanan masyarakat, sehingga keadaan masyarakat yang bertentangan dan yang tidak dengan organisasi bisa diidentifikasi.
Keempat, Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pemimpin manajemen demi tujuan dan manfaat bersama. Untuk itu, humas seharusnya berupaya menberikan fasilitas berupa penampungan ide kritik dari pihak masyarakat dan menyampaikannya kepada menajemer organisasi, untuk menyampaikan apa saja keluh kesah yang ada pada masyarakat. Sehingga dari pihak organisasi bisa bertanggung jawab pada problem yang dibuatnya.
Kelima, Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik , dan mengatur arus informasi, publikasi serta pesan dari badan/organisasi  ke publiknya atau sebaliknya, demi  tercapainya citra positif kedua belah pihak. Untuk yang terakhir, yakni bagaimana peran humas harus saling membangun citra organisasi dengan membangun kembali cara berkomunikasi dengan masyarakat, agar bila ada masalah. Kedua belah pihak akan saling mengerti dan membantu.
2.      Kasus 2.
Dalam mempromosikan Madrasah menengah yang berada di lingkungan masyarakat yang masih belum sadar akan pentingnya dunia pendidikan, maka hal yang perlu dilakukan oleh humas. Yakni humas harus bisa mempromosikan madrasanya dengan cara memberi tahu secara lisan orang tua yang akan menjadi calon anak didiknya. Tentunya dalam mengiklankan keadaan ini. Pihak humas seharusnya mengetahui kondisi dari sasarannya.
Bila sasarannya seperti yang dijelaskan dalam soal, maka peran humas yakni mempromosikan dengan cara, bahwa madrasah yang disediakan adalah madrasah/sekolah yang bervisi misi untuk memberikan pelajaran dan pendiidkan sesuai dengan keadaan masyarakat. Seperti, humas memaparkan pada orang tua calon murid, bahwa madrasahnya berupaya untuk menjadikan anak didiknya pintar dalam memahami agama, seperti sholat yang benar, membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, serta hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat.
3.      Kasus 3.
Hal yang seharusnya dilakukan oleh humas untuk menenangkan mahasiswa yang berdemonstrasi adalah dengan cara mengajak mereka berunding dengan cara membangun komunikasi positif. Serta mencoba untuk memberikan pemahaman terhadap mahasiswanya, seperti humas memberikan pengertian akan keungan baik dari pemasukan dan pengeluaran dari Perguruan Tinggi.
Sehingga nantinya, diharapkan mahasiswa memahami secara sungguh. Bahwa keinginan perguruan tinggi untuk menaikkan SPP bukan semata-mata karena keinginan sebelah pihak. Serta selebih-lebihnya mahasiswa dapat mengerti keadaan Perguruan Tinggi.
Sedangkan hal yang harus dipersiapkan bila berhadapan dengan pers. Yakni, humas tidak bersikap bertentangan dengan pers. Mencoba untuk menghargai pers sehingga nantinya dari pihak pers akan membangun juga sikap menghargai terhadap humas. Saling pengertian antara peran, fungsi, kewajiban, dan tugas sesuai dengan etika profesi, sihingga dalam memberikan informasi humas bisa tidak membocorkan secara langusung kesalahan yang diperbuat. Memberikan paparan kepada pers, bahwa keadaan ini bukanlah masalah kepentingan sepihak saja, sehingga nantinya bila diangkat dimedia massa tidak bertambah konflik yang terjadi antara mahasiswa dan perguruan tinggi. Membangun sikap saling toleransi antara kedua belah pihak.
B.     Jawaban Essay
1
Pentingnya manajemen humas yakni menunjang manajemen dan aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan bersama organisasi. Membangun hubungan baik dengan masyarakat agar setiap keputusan organisasi mendapatkan dukungan publik. Merupakan mediator yang berada antara pimpinan organisasi dengan publiknya, baik dalam rangka membangun hubungan internal maupun eksternal.
2
Untuk lembaga pendidikan Islam, pengertian manajeman humas yakni seni dan ilmu pengetahun sosial yang dapat dipergunakan untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekwensi, menasehati para pemimpin organisasi dan melaksanakan program yanng terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik untuk kepentingan organisasi maupun untuk kepentingan publik secara umum, dalam hal ini untuk meningkatkan penyiaran Pendidikan Islam.
Sedangakan fungsi humas dalam pendidikan Islam yakni Memberikan penrangan kepada masyarakat tentang keberadaan dan kajian pendidikan Islam. Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung, dalam hal ini masyarakat diarahkan pada pemahaman tentang duania pendidikan Islam. Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya, berdasarkan ke-Islam-an yang ada di dunia pendidikan Islam. 
Untuk peran humas dalam lembaga pendidikan Islam antara lain yakni sebagai, komonikator (communicator), yaitu dengan membangun komunikasi dengan masyarakat mengenai keberlangsungan, kegunaan, dan hal lain dalam lembaga pendidikan Islam, menjalankan relasi (relationship) dengan masyarakat tentang keberadaan lembaga pendidikan Islam untuk bertahan hidup dalam dunia globalisasi. Selanjutnya yakni melakukan semacam sikap menyokong atau menunjang (back up) kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga. Yang terakhir yakni membuat dan menyebarkan citra positif lembaga (good image maker).
3
Ruang lingkup bagi lembaga pendidikan Islam dalam kegiatan Humas yakni terdiri dari dua kegiatan. Pertama, membina hubungan kedalam, dalam arti lain Humas harus mengkondisikan dunia internal organisasinya dengan membangun komunikasi yang baik antar intern lembaga pendidikan Islam. Tentunya berdasarkan konsep dan basis ke-Islam-an. Kedua, membagun hubungan keluar, yakni humas bisa membuat citra positif pada masyarakat luar untuk membesarkan organisasi yang di bawahnya, serta mampu mempengaruhi masyarakat agar mendukung kegiatan lembaga pendidikan Islam.
Sedangkan sasaran dari Humas dalam Lembaga Pendidikan Islam yakni memiliki beberapa sasaran, diantaranya: mengenalkan lembaga pendidikan Islam dengan ciri khas tertentu, dan membangun pandangan positif dari masyarakat luas. Humas dalam lembaga pendidikan Islam mampu menghadapi segala fenomena dan problema yang terjadi pada organisasi yang ditangani serta mampu mempetakan kecenderungan negatif (problem) yang akan menimpah organisasi. Mampu mengenalakan organisasi kemasyarakat secara baik dan bertanggung jawab, serta mampu membuat masyarakat ikut membantu dalam kegiatan organisasi yang berupa lembaga pendidikan Islam.
4
Langkah-langkah dalam kegiatan humas yakni terdiri sebagai berikut; persayaratan yang pertama yakni adanya organisasi. Melakukan analisis riset. Membuat formulasi kebijakan. Perencanaan penyusunan kegiatan. Melakukan komunikasi baik terhadap intern organisasi maupun ekstern organisasi. Mempetakan kelompok publik yang menjadi sasaran. Mencari dan mendaptakan umpan balik. Dan yang terakhir melakukan evaluasi dan adaptasi terhadap program kerja yang telah dilakukan.
5
Organisasi yang berbeda baik perbedaannya berdasasarkan masalah yang menimpah atau bentuk kegiatan yang luar biasa, nantinya perlu diangkat pada dunia luar yang ditangani oleh pers yang menggendalikan media massa. Untuk itu, dalam konfrensi pers yang berlangsung, pihak Humas harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tersebut dengan konsep yang mapan.
Rumus yang bisa digunakan untuk konfrensi pers, agar pers tidak terlalu masuk pada inti dan aib organisasi. Yakni dengan rumus, 5 W dan 1 H. sedangkan manfaat yang bisa diambil yaitu berupa pelurusan masalah pada mayarakat bila lembaga tersebut menghadapi problem, atau berupa promosi organisasi bila kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan harapan intern dan ekstern organiasai/lemabaga.










Selasa, 16 April 2013

Integrasi Ilmu Sosial (Resume dari Karangan: Dwi K. Susilo)


A.    PENDAHULUAN
Pola pikir yang dimiliki manusia, seperti yang kita ketahui, memiliki pola yang berbeda-beda. Otak yang satu dengan yang lain pasti akan memunculkan pemikiran yang berbeda. Dalam hal ini pengaruh yang didaptkan dapat dari diri orang tersebut dan pengalaman yang berbeda sehingga membuat mereka berbeda dalam menilai sesuatu.
Berikut ini adalah sebuah resume dari buku karangan Dwi. K. Susilo, dangan judul buku integrasi ilmu sosial. yang  pada dasarnya ingin menyambung dan bisa sama-sama mengakui para pemikir yang berada pada tiga peradaban, yaitu : yunani, islam, dan barat. Khususnya dalam bidang Sosiologi.
Namun perlu diketahui bahwa pemikir yang dibahss dalam buku integrasi sosial ini, pada dasarnya pola pemikirannya pertumpuh pada pemikir atau Ilmuwan Yunani, dan tentunya corak berfikir yang menjadi landasan dasar yakni corak pemikiran yang berarah ke idealisme dan realisme. Untuk itu sebut saja nama ilmuwan atau yang lebih dikenal dengan filosof adalah seperti Plato, Socretes, dan Aristoteles.
B.     PEMBAHASAN
1.      BAB I
Pada bab ini membahas tentang ilmu sosial integratif: konstribusi Filosof-Filosof Muslim sebagai agen integrasi peradaban Yunani-Barat.  Dengan miniminya gagasan-gagasan Islam dalam dunia keilmuan, sehingga membuat cukup kontras di kalangan pelajar-pelajar sekarang. Gagasan besar ilmu pengetahuan dipelajari sebagai kajian yang wajib. Dan gagasan besar itu dianggap sebagai kelanjutan tradisi barat. Maka dengan demikian bagaimana peran Ilmuwan Muslim pada abad ke-9 dan abad ke-10.
Banyak orang tidak mengenal siapa tokoh muslim yang meberikan sumbangsih pemikiran, Ilmuwan-Ilmuwan muslim tersebut, seperti Al Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu khuldun, dan ilmuwan-ilmuwan lain. Penulis buku Integrasi Ilmu Sosial ini menyebutkan bahwa tokoh-tokoh intelektual Talcott Parsons, Dehrandof, dan Antony Gidden, enggan unruk menangakui atas jasa pemikiran Ilmuwan Muslim dalam bidang Sosiologi.
Namun dengan alasan di atas, bukan berarti pengklaiman atas siapa yang pertama kali berperan dalam memberikan gagasan dan mentafsiri akan peradaban pemikiran tokoh Yunani, apakah Ilmuwan-Ilmuwan Muslim atau Ilmuwan-Ilmuwan Eropa. Nantinya yang kita harapkan bukanlah mengklaim secara serampangan dan mengakui siapa yang pantas dan lebih tepatnya memberikan sumbangsih pemikiranya terhadap umat manusia akan Sosiologi khususnya.
Seharusnya yang terpenting adalah adanya suasuna ilmiah yang saling mengakui, jujur dan fair. Bahwa Ilmuwan-Ilmuwan Muslim dan juga Ilmuwan-Ilmuwan Eropa sama-sama memiliki konstribusi relevan. Asumsi yang dapat diambil bahwa dalam hal ini, ada sesuatu yang terputus. 
Karena itu ada beberapa langkah yang harus dilakukan.
1.      Memahami sosiologi pengetahuan masyarakat barat dan masyarakat muslim. Yakni memfokuskan kajian tentang karakter mayarakat dan sistem pengetahuan yang dimiliki masing-masing.
2.      Memahami gagasan masing-masing ilmuwan yang terdapat dalam tiga peradaban, terutama untuk menemukan gagasan baru tentang paradigm yang dikembangkan.
3.      Menganilisis kekuatan pemikiran masing-masing ilmuwan
4.      Menemukan rantai integrasi pemikiran para ilmuwan yang terdapat dalam wilayah Yunani, Islam, dan Barat. 
Fokus yang dilakukan adalah mengkaji secara dalam dan komprahensif akan tiga peradaban. Untuk pertama, mari sejenak membahas tentang sekilas alam pemikiran Yunani, banyak ditemukan pemikir-pemikir yang hebat di Yunani, yang merubah cara berfikir orang Yunani dari Mitos ke Logos. Di sini, pembahasan langsung ditujuakan pada pemikir seperti Socretes, Plato, dan Aristoteles, namun  bukan berarti menafikan hasil pemikiran filosof yang lain.
Socretes dengan bijaksana mengetakan bahwa ajaran-ajarannya bukanlah ingin mempengaruhi orang lain. Setelah Socretes wafat, pola pemikirannya dilanjutkan oleh muridnya, yaitu Plato. Plato mengembangkan gagasan-gagasan besar gurunya, baik gagasan-gagasab tentang metode mencarai kebenaran, induvidu, tentang masyarakat maupun tentang deskripsi sifat-sifat perubahan sosial.
Begitu juga dengan Plato, setelah ia wafat. Tradisi keilmuan dilanjutkan oleh muridnya, yaitu Aristotelas. Akan tetapi, Aristotelas tidak serta merta mengembangkan pemikiran filsafat Plato secara mutlak. Bahwa hal yang mendasar dari perbedaan tersebut adalah dari sudut pandang. Bila Plato melihat persoalan berasal dari ide, sedangkan Aristotelas memandang persoalan berasal dari real.
Untuk di daerah Muslim yang berada di Arab, kemunculan Filsafat Islam sebenarnya tidak lepas dari karakter-karakter dan dinamika Bangsa Arab yang mempunyai kebiasaan jadali.  Menurut L. Garder dan M. Anakwati bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang secara esensial terinspirasi dari Platonis dan Aristoteles, yang diungkapkan dalam Bahasa Arab dant tentunya dipegaruhi oleh Islam.
Serjana Muslim yang lahir terdiri dari dua kelompok.
1.      Kelompok ilmuwan aliran Peripatetik, yakni ilmuwan sosial yang pengkaji dan penganut aaran Aristoteles.
2.      Kelompok ilmuwan aliran Iluinasionis, yakni para Ilmuwan sosial pengkaji dan pengikut Plato.
Dinamika pemikiran Islam dan pembagiannya, yaitu terbagi atas Muktazila dan Kalam Asy’ari. Aliran Islam Muktazila berkembang di daerah Bagdad dan Basrah, masa kejayaannya antara 817-845. Majid Fakhry menjelaskan bahwa kemunculan Muktazila berangkat karena konflik kekhalifaan. Dan sekaligus menjadi antitesis dari aliran Jabbariyah yang menjadi alat politik bagi kekhalifaan Umayyah. Dalam mengajarkan paham ke-Tuhan-an konsep Muktazila menyerupai pemikiran Aristoteles.yaitu kesatuan transenden Allah.
Sedangkan Kalam Asy’ari, yang didirikan oleh Abu Hasan Al Asy’ari pada 935 M. Adanya aliran ini disebabkan, yang pertama, setelah bermimpi Rasulullah. Kedua, beliau berdebat dengan gurunya dan jawaban yang diberikan oleh gurunya tidak memuaskan. Mazahab ini berkembang di Spanyol dan Magrib yang corak pemikirannya adalah peripatetik.
Ada yang menarik dalam sejarah islam tentang dua pendekatan yang saling bertentangan, yaitu Jabariyyah dan Qodariyyah. Jabariyyah yang didirikan oleh Jahm bin Safyan. Yakni paham yang  meyakini bahwa segala pekerjaan adalah atas kehendak Tuhan dan manusia tidak bisa berusaha sendiri. Yang menarik lagi ajaran Jabariyyah ini hampir sama dengan aliran Siosis yang ternyata didirikan oleh Zeno yang mempunyai ajaran tentang ruang kosong.
Qodariyyah, ajaran ini dikembankan oleh muallaf yang bernama Ma’bab Al Juhani. Ajaran Qodariyyah ini bersifat sebaliknya dengan ajaran Jabariyyah, yakni, segala perbuatan yang dilakukan manusia adalah atas kehendak sendirinya, dan Tuhan tidak ikut campur dalam perbuatan manusia.
Sedangkan di dunia barat ada ajaran yang hampir sama dengan gagasan yang ada pada Jabariyyah dan Qodariyyah, yaitu gagasan naturalistik/Positivistik individu dengan tokoh Thomas Hobbes, Aguste Comte, dan ilmuwan-ilmuwan lainnya  gagasan ini sama dengan aliran Jabariyyah. Ada juga gagasan Humanistik/Interpretatif Individu, dengan tokoh Max Wabber, Karl Mark dan lain tokoh-tokoh lainnya.
Namun perbedaan yang mencolok antara ajaran yang ada di kalangan muslimin dan barat. Bila kaum muslimin persoalan yang dihadapkan adalah untuk Tuhan dan untuk Barat persoalan yang didahadapkan untuk masyarakat.

2.      BAB II
Bab ini secara keseluruhan membahas tentang filsafat sosial : persoalan teori dan teorisasi masyarakat Barat. Perlu di ingat, jika ditinjau dari sejarah ilmu pengetahuan, semua cabang pengetahuan menginduk kepada yang dihasilkan filsafat. Filsafat telah banyak jasanya sebagai alat bantu dalam berfikir.
Untuk saat ini pembahasan lebih tertuju  pada teori sosial masyrakat Barat, karena dunia Barat lebih memiliki kerangka keilmuan yang mapan dan terstandarkan, bahkan tidak sedikit ilmuwan Muslim yang masih menggunakan standar ilmuwan Barat.
Lebih fokus pada teori sosial yang ada di dunia Barat, maka hal utama yang harus diketahuai adalah cikal bakal terjadinya teori sosial Barat. Hal yang pertama yang menjadi cikal bakal yaitu, Revolusi Politik, hal ini ditandai dengan revolusi prancis yang terjadi pada tahun1718 M. Kedua, Revolusi Industri dan kemunculan Kapitalisme. Ketiga, kemunculan Sosialisme, yang dipelopori oleh kalangan Marxisme yang pada dasarnya melawan adanya paham Kapitalisme. Keempat, Urbamisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota, yang terjadi pada dunia Eropa yang disebabkan oleh adanya kumunculan Revolusi Industri. Kelima, Perubanan-Perubahan Religiotas/ keagamaan, yaitu desebabkan dengan adanya temuan baru dalam bidang tekhnologi tanpa bantuan agama, sehingga mampu menggeser keberadaan agama. Kelima, yaitu Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan.
Disamping itu gagasan-gagasan Sosiologi banyak disesuaikan dengan tradisi keilmuan yang tumbuh berkembang di negara tertentu. Seperti di Jerman, banyak dipengaruhi adanya gerakan-gerakan Revolesioner Filsafat. Prancis, banyak dipengaruhi oleh bidang Seni Sastra yang berkembang dimasyarakat. Inggris, banyak dipengaruhi gagasan-gagasan Ilmu Alam. Dan Amarika, banyak dipengauhi motif-motif Pragmatis.
teori sosial lahir dan berkembang tidak lepas dari berbagai fungsi yang melekat di dalamnya. Seperti, diajukan untuk mendukung dan mencapai tujuan politik praktis, berdiri untuk melawan pengaruh teori-teori sosial yang mapan sebelumnya, sentises kearifan teoritis dari ilmuan sebelumya, akomodasi temuan-temuan riset, mencari formalitas dasar dari realitas sosial, dan mencapai pernyataan dari peristiwa besar.
Di dunia Barat ajaran-ajaran Sosiologi terdiri atas pokok-pokok positivesme yang dikembangkan oleh Bacon dan Descartes, walaupun pengembangan yang lebih tajam,  ajaran ini dikembangkan oleh Aguste Comte. Positivisme Comte merupakan bentuk penyerangan filosofis yang dekembangkan oleh David Hume. Dalam positivisme tidak ada perbedaan antara ilmu alam dengan ilmu sosial.
Selanjutnya adalah pokok-pokok Epistemilogi Interpretatif,  ajaran ini bertentangan dengan Positivistik. Pada abad ke-17 di kalangan ilmuwan yang menyatakan bahwa tidak mungkin meng-ilmiah-kan dunia sosial sebagaimana yang digunalan pada ilmu alam. salah satu tokoh ilmuwan yang mengembangkan teori Sosiologi Intrepretatif yakni Max Weber.
Berikutnya adalah teori Kritis yang dipelopori oleh the institute of school reseach di Universitas Frankurt, dan nantinya dikenal dengan mazhab Frankurt. Para ilmuwan yang ada dibelakang teori ini adalah, Mark Horkhimer, Thodere Adorno, Herbert Marcuse, dan Erich Fromm.
Menurut para ilmuwan teori kritis, gagasan Positivisme  adalah teori tradisional yang merupakan melayani realitas yang telah eksis sebelumnya, dengan teroi interpretatif, teori kritis memiliki kesamaan, yang sama-sama menolak saintifikasi dan objekvitas ilmu sosial. Sedangkan perbedaannya bahwa ilmu sosial tidak hanya mendeskripsikan saja, tetapi juga harus bersifat reflektif.  
                
3.      BAB III
Pada bab ini membahas tentang teori sosial idealis : ide=ide integratif Plato, Al Farabi, Kant, Dan Hegel. Tokoh-tokoh ilmuan yang akan dibahas adalah tokoh-tokoh yang memandang ide sebagai bagian yang penting dan essensial dari persoalan manusia dan masyarakat. Para tokoh tentang ide ini memiliki penamaan tersendiri. Namun, walaupun beda penyebutan tentang ide tetapi makssudnya adalah sama, semisal Plato, suka menyenyebut  sebagai idea, Al Farabi dan Hegel menyebutnya dengan jiwa. Kant meneyebutnya dengan akal budi.
 Yang pertama adalah Plato, plato besar dengan adanya konflik yang berkecamuk,  terutama pada saat perang Athena dan Sparta. Pada saat itu, kemasyhuran dari kalangan Sofis yang suka berargumen di khalayak ramai, aliran pemikiran Sofis disini memakai dasar filosofinya Heraklitus yang berteori bahwa realitas meupakan ruang yang tidak kekal dan berubah-ubah. Dan yang menjadi antitesis dari pemikiran heraklitus adalah Parmindes yang berteori sebaliknya dengan Heraklitus.
Dalam hal ini Plato mengengahi dari kedua pemikiran tersebut walupun Plato cukup condong dengan pemikiran parmindes. Di sini plato mengungkapkan gagasannya tentang akal, bahwa dengan akal manusia bisa mengenal secara baik mengenai baik (kebaikan), yang benar (kebenaran), dan yang indah (keindahan). Plato menyatakan bwhwa yang tetap dan juga tidak berubah itulh yang disebutnya dengan idea.
Plato juga berbicara tentang jiwa, menurutnya jiwa memiliki tiga fungsi. Pertama, bagaian rasional hal ini berhubugan denga kebijaksanaan, kedua, bagian kehendak atau keberanian hal ini dihubunkan dengan kegagahan, da yang ketiga, bagian keinginan atau nafsu hal ini dihubungkan dengan pengendalaian diri.
Tidak hanya tentang jiwa dalam kaitannya dengan Sosiologi Plato juga berbicara dalam Sosiologi. Dia berpendapat sama dengan gurunya Socretes, yang menyatakan bahwa induvidu tidak memadai dalam dirinya. Secara sendirian, ia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan, oleh karena itu maka Plato mementingkan adanya komunitas.
Kaitannya dengan pemerintahan  Plato berpendapat bahwa sturuktur kenegaraan yang beradab harus terdiri dari tiga golongan dengan masing-masing fungsi yang diperankan. Yang pertama, yakni golongan tertinggi, golongan ini terdiri dari dari pengusas, dan menurut Plato harus terdiri dari filosof. Kedua, golongan pembantu, yaitu golongan prajurit. Ketiga, golongan terendah, yaitu masyarakat biasa.
Tokoh sosiologi selanjunya adalah Al Farabi yang hidup pada tahun 870-90 M. gagasan-gagasan Al farabi cenderung bersifat Platonis, namun dalam kaitan politik Al Farabi sering mengunaka Rasional, makanya Al Farabi disebut-sebut juga sebagai Aristotelenian.
Dalam banyak tulisan , Al Farabi mencoba menjajarkan kedudukan agama dengan filsafat, ia menyatakan bahwa tidak ada pertentangan agama dengan filsafat. Karena filsafat dapat dijadikan metode untuk mencari kebenaran beragama. Tetang jiwa Al Farabi berpandapat bahwa nalar yang dimili manusiaterdiri atas kehendak (will) dan hasrat (desire). Hasrat didefinisikan sebagai kesukaan manusia atas rangsangan manusia, dan kehendak adalah jiwa yang memerlukan pertimbangan dan pemikiran.
Dalam kepemimpinan al farabi juga berpendapat, seperti kutipan tulisannya ;
Sebagaimana alam duniamerupakan keseluruhan harmoni yang diataur oleh kekuasaan tertinggi tuhan; sebagimana falak-falak bintang dan bumidi bawah bulan brurut-uruta; sebagaiman jiwa manusia darid daya yang berbeda-beda; sebagaimana tubuh manusia yang merupakan kesatuan tertib yang diatur oleh jantung. Maka begitulah Negara harus ditertibkan dan dipolakansesuai dengan contoh-contoh mulia itu. Selanjutnya gagasan Al Farabi yang menegai kota, staratifikasi sosial dan pengaturan masyarakat. Pendapat Al Farabi tentang kota sama dengan Plato, bahwa kota adalah tempat terbaik bagi manusia untuk mencapai kesempurnaannya.
Tentang kota, disini  Al Farabi menyatakan bahwa kota yang baik adalah kota utama, namun dalam pembagiannya al farabi menggunakan lawan dari kota utama, seperti. Yang pertama adalah kota kebodahan, kota ini terdapat aturan tuhan yang tidak dijalankan secara baik oleh warga kota. Kedua adalah kota pembangkang, yakni yaitu kota yang gagal mengamalkan ajaran kitab suci dan ajaran para Nabi. Ketiga adalah kota kesesatan, yakni kota yang menengenal ajaran-ajaran yang baik namun karena ada sebab yang lain mereka tetap membangkang. Keempat adalahkota keliru, yakni kota yang merasa nyaman dengan pandangan yang keliru tentang tuhan atau intelektual aktif, sedangkan pemimpin kota ini biasanya adalah Nabi palsu/
Sedangkan hubungan antar negara al farabi membagi atas tiga, pertama, madina sughra (negara kecil atau kota). Kedua, madina wustha (yakni habungan atas kota-kota, dan lebih besar dari madina sughra). Yang ketiga adalah mandina uzhma/ (bila sekarang bisa dinamakan globalisasi).
Ilmuwan berikutnya adalah Immanuel Kant, dia hidup antara tahun 1724-1804. Pada awalnya Kant adalah orang yang bercorak pemikiran Rasionalisme, hal ini terjadi akibat dari pengaruh para dosen disaat masa kuliajnya. Akan teteapi setelah  ia dikukuhkan sebagai Profesor corak berfikir rasionalisme-nya telah pudar dan diganti dengan corak berfikir Skeptisisme, namun lagi-lagi Kant tidak konsisten dan malahan hanya sebentar saja dengan corak berfikir skeptisisme, ia beali dengan corak berfikir yang dihasilkannya sendiri.
Dalam kaitannya dengan emperisme dan rasioaalisme,  bisa dikatakan bahwa kant adalah ilmuan yang mendukung gagasan ilmuwan Idealis. Namun, jika dikaji secarah jauh, sesungguhnya ada keinginan Kant untuk mengambil posisi tengah antara Emperisme dan Rasionalisme.
Dalam berbicara tentang masyarakat Kant beranggapan bahwa moralotas harus ada pada kesadaran manusia. Sedangkan dalam hukum-hukum sosial, Howard William mengutip kant yang menyatakan.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak sosial. mereka mendaptkan kepiaan tidak hanya dari menjauhkan diri dari masyarakat, namun juga partisupasinya secarah penuh didalamnya. Manusia memiliki kecondognan untuk hidu bersama dalam masyarakat, namun kecondongan ini disertai dengan Risesstensi yang terus menerus sehingga menimbulkan ancaman perpecahan dalam masyarakat.
Dengan begitu Kant menyatakan bahwa kebebasan itu harus dibatasi sedemikian rupa sehingga kebebasan orang dapat terjamin. Keadaan ini bisa dilakukan dengan adanya Negara Hukum.
        Ilmuwan berikutnya adalah G.W.F  Hegel, ia lahir pada tahun 1440 dan meninggal pada tahun 1831 disebebkan penyakit kolera. Hegel adalah mahasiswa pada fakultas teologidi tubingen.. setelah lulus kuliah Hegel pernah mengajar di Jena dan di Berlin, ia menulis buku tentang Filsafat Agama, Filsafat Sejarah dan karya-karyanya yang lain.
Tantang jiwa, Hegel menyatakan bahwa  selama orang tidak berbuat apa-apa, tidak berkata apa-apa maka yang ada hanyalah dirinya sendiri, dan ia sama sekali sendiri. Sedangkan dalam dealikteka, penyataan hegel tidak lepas dari gagasan-gagasan para Filosof Yunani. Seperti jika dalam suatu forum ada pendapat (tesis), maka pendapat ini akan ditentang oleh pendapat yang lain (antitesis), kemudian ada pendapat lain yang memperdamaikan yang lebih lengkap (sintesis).
Dalam gagasan Sosiologi dan politik ia menyatakan bahwa dasar-dasar yang mengintegrasikan masyarakat dapat ditemukan dengan tiga hal, yaitu : hukum, moral dan kesusuilaan. Hukum adalah peraturan-peraturan yang harus ditaati. Sedangkan moral menurut hegel tidaklah timbul sndiri melainkan dilalalui dengan proses pemdidikan. Untuk kesusilaan Hegel berpendapat bahwa susila akan tercapai melalui tiga lembaga sosial, yaitu : keluarga, masayarakat sipil, dan negara.
Selanjutnya tentang pembagian kerja dan kitaksamaan, Hegel membagi sistem kerja yang menentukan sifat golongan status, seperti. Pertama, golongan petani. Kedua, golongan industri, dan ketiga golongan pedagang. Dengan pembagian ini, sesungguhnya Hegel tidak merelakan akibat dari industrialisasi, yang akan mengakibatkan pihak lain dalam kerugian.
Sedangkan tentang Negara Hegel berpendapat, bahwa Negara tidak boleh membatasi diri dengan  memberikan kebebasan pada induvidu, seperti yang dinyatakan oleh kaum leberal. Namun negara harus bertindak memberikan pengarahan. Hegel juga menyatakan bahwa warga hayus mengikuti secara suka rela terhadap kemauan Negara, ketaatan bukanlah paksaan dan bukan kekerasan negara, yang terpenting dalam hal ini adalah suatu keamaian dalam keinginan induvidu dengan kepentingan umum. Akan tetapi hal ini dikhawatirkan oleh J J Rousseau, dengan kekhawatiran akan terjadinya otoriter dalam Negara.

4.      BAB IV
Bab ini membahasa tentang, teori emperis: ide-ide integratif Ibnu Rusyd, Aristoteles dan Karl Marx. ilmuan-ilmuan tersebut mengelakukan kajiannya dalam teori sosial dengan cara emperis. Ilmu sosial ini mengambil titik tekan bahwa sesuatu bisa ditangkap dengan panca indra adalah paling penting.
Tokoh pertama adalah aristoteles yang hidup antara tahun 384-322 SM. Aristoteles disi berbeda dengan pemikiran gurunya, yaitu Plato. Kehidupan aristoteles dibagi dalam tiga tahap.
Tahap pertama, yakni di akademia. Tahap kedua, di Assos,yaitu ahap yang mulai menyerang Plato. Dan tahap yang ketiga,  yakni saat di Athena. Yaitu saat Aristoteles waktu ia berbalik  dari tekhnik spekulasi kepenyelidikan emperis.
Beberapa hal yang dilakukan Aristoteles dalam keilmuan yaitu antara lain, tentang logika, Aristoteles menyusun tentang kajian-kajian dalam bidang logika. Logika adalah ajaran tentang berfikir secarra ilmiah yang membicarakan bentuk-bentuk pemikiran itu sendiri (yaitu: pengertian, pertimbangan dan penalaran).
Berikutnya adalah tentang induvidu, Aristoteles menyatakan bahwa induvidu memiliki kebebasan dalam mennetukan dan memutuskan sesuatu. Sebab induvidu memiliki pertimbangan praktis.
Aristoteles juga mengkaji gagasan tentang masyarakat dan Negara. Aristoteles menggunakan istilah Koinonia sebagai kata lain dari kelompok sosial atau persekutuan hidup. Di sini dapat diambil penegrtian lain bajwa dalam Koinonia terdapat hubungan-hubungan sosial yang bersifat sangat khusus, erat, akrab, dan tulus. Sedangkan bentuk awal dari Koinonia ini adalah keluarga.
Sedangkan dalam bentuk pemerintahan Aristoteles menyatakan bahwa monarki adalah bentuk pemerintahan yang paling baik, utamsnya jika dipimpin oleh raja atau penguasa yang memerintah dengan berbekal kualitas didikan yang lebih dari siapapun.
Ilmuwan yang kedua adalah Ibnu Rusyd yang hidup antara tahun 1126-1198. Ibnu Rusyd ini adalah anak dari seorang hakim dan kakeknya juga pernah menjabat hakim agung. Perlu diingat bahwa seluruh hidup Ibnu Rusyd dihabiskan di Cordova.
Ibnu Rusyd mengawali karir besarnya sejak dipanggil oleh Kholifah Al Manshur, untuk dijadikan penasihat Kholifah. Dalam kaitanya dengan filsafat Ibnu Rusyd agak kesulitan karena pada waktu itu Madzhab Malikiah sedang mendominasi, dan juga hal yang membuat filsafat tidak disukai yaitu dengan adanya karangan yang diterbitkan oleh al ghazali.
Dalam khazanah keilmuan muslim, Ibnu Rusyd lebih dikenal komentator karya-karya Aristoteles. Menurut tulisan dari dante dalam karyanya (komedi ketuhanan). Bahwa Ibnu Rusyd berniat untuk membersihkan kembali pemikiran Arisoteles  agar ide-idenya benar-benar murni. Malahan Ibnu Rusyd menganggap bahwa Aristoteles-lah yang paling utama diantara para Filosof.
Tidak hanya dalam ranah Teologi saja, Ibnu Rusyd juga mengkaji dalam Sosiologi. Ia pernah mengkaji hukum-hukum masyarakat, tentunya dengan mendasarkan pada pola dan karangka pikir dalil-dalil Agama.
Dalam kaitanya masyarakat Ibnu Rusyd membagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok maasyarakat awam, yaitu masyarakat yang mempunyai pola pikir sedarhana, tentunya dalam memahami dalil agama tanpa adanya interpretasi. Kelompok kedua adalah kelompok Matakallimin, yaitu kelompok yang menempuh jalan interpretasi dalam memahami dalil-dalil. Kelompok yang ketiga, adalah kelompok  falasifah yaitu kelompok yang menempuh jalan interpretasi dalam memahami dalil dalil melalui metode pembuktian.
  Ilmuan yang ketiga adalah Karl Marx yang hidup antara1818-1883. Ia adalah keturunan Rabi Yahudi. Dari kedua pihak orang tuanya Karl Marx  memiliki kebiasaan yang sama dengan mereka, yaitu sama-sama menyukai gagasan filsafat. Karl Marx sendiri menyukai gagasan-gagasan John Locke.
Dalam dialiktka Karl Mark, kajian-kajiannya tidak lepas dari yang didiskusikannya di Doctor Club. Dialektika yang dipakai Karl Mark berbeda dengan yang dipakai gurunya dan juga yang dipakai oleh Ibnu Rusyd. Dealiktika menurutnya seyogyanya ditemukan dalam wilayah yang lebih nyata, yakni dialam Matrealisme dalam konteks ini, Matrealisme bukan sekedar watak yang menghamba kepada kepentingan material..
Sedangkan dalam tentang logika berfikir Matrealisme Historis, Karl Mark menjelaskan bahwa  sejarah bukanlah seperti yang diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Namun sejarah haruslah dipertanyakan dan diungkapakansebagai bagian yang fundamental. Menurutnya sejarah dibagi atas dua. Yaitu sejarah alam dan sejarah manusia.
Selanjutnya pembagian bentuk-bentuk masyarakat. dengan mengutip ide Karl Mark, Jorge Larrain menyatakan.
Mael mengatakan bahwa sejarah dalam setiap zamannya adalah kenyataan emperisme di mana setiap induvidu diperbudak oleh kekuasaaan yang asing bagi merekam yang secara praktis dibuat oleh mereka sendiri.
Dalam kaitannya dengan kelas-kelas sosial. Karena Karl Marx adalah orang yang hidup dalam masa Industrilisasi. Ia membedakan mayarakat Kapitalis menjadi dua bagian. Yakni kelas Borjuis, kelas yang menguasai alat produksi yang hidup dari laba. Dan kelas Proletar, yakni kelas yang tidak mempunyai alat produksi dan hidup dari upah. Tetapi walaupun kelas Proletar ini terlantar dan terasing karl marx masih percaya bahwa dengan meraka yang progresif ia meyakini Revolusi bisa terjadi.

5.      BAB V
Untuk bab yang terakhir ini, membahas tentang membangun school of thought ; langkah fundamental membangun integrasi sosial. Di sini sudah diketahui bahwa peradaban yang tidak sama (Yunani, Islam, dan Barat), namun tiga peradaban tersebut memberikan konstribusi yang sama atas keilmuan terutama dalam Sosiologi.
Oleh karena itu sekiranya untuk sekarang ini tidak ada salahnya membangun kembali akan school of thought. School of thought adalah sekelompok ilmuwan yang memiliki pandangan yang sama, dalam arti lain sekelompok tersebut bersama-sama dengan membentuk kelompok keilmuwan yang memiliki semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dalam tradisi Islam, puncak keemasan dalam keilmuan berada pada abad 7-10 M, berbeda dengan di Barat yang pada waktu itu mengalami masa yang suram dalam abad itu.
Bisa dilihat sebagai taraf perkembangan ilmu tertinggi dalam proses enkulturasi Arab-Yunani, maka didirikanlah lembaga-lembaga pengajaran penerjemahan-pnenerjemahan dan perpustakaan Yunani Arab. Adapun prestasi yang bisa dicatat adalh ketika pada masa Kholifah Al-Ma’mum,  mendirikan sebuah lembaga yang mengurusi pekerjaan-pekerjaan penerjemahan.
Dari school of thought dalam tradisi Islam ini, ada sesuatu yang menarik, yakni dimasukannya filsafat Yunani sebagai bagian kurikulum. Dan prestasi yang mengejutkan terjadi ketika muncul tokoh filsafat-filsafat besar  dalam bidang filsafat, Al Farabi dan Ibnu Sina misalanya, mereka mampu menyusun filsafat neo platonisme.
Sedangkan School Of Thought di barat, dalam ilmu sosial berkembang sangat pesat hingga menjadi bagian sejarah. Di barat ini, School Of Thought terbagi atas dua kelompok, kelompok yang pertama adalah Chichago School, dan kelompok kedua adalah Frankurt School.
Chichago school, diberi nama tersebut karena kelompok ini berada di kota chichago, perkembangan ilmu sosial di universitas chicago tidak lepas dari albio small yang mendirikan  jurusan Sosiologi di Chichago. Selanjutnya pada tahun 1905 Albion Small mendirikan Asosiasi Sosiologi Amerika.
Bagi small sendiri, kemunculan Sosiologi seharusnya tertarik atas dua tugas. Pertama, sebagai alat untuk melakukan reformasi sosial. Kedua, sosiologi harus bersifar ilmiah. Sedangkan nama-nama lain yang mendominasi chicago school adalah seperti willam isaac thomas dan robbert ezra park.
Selanjutnya Frankfurt School, yang didirikan oleh Felix J Weil, didirikan pada 23 februari 1923. Namun dalam sejarah kelahirannya Frankfurt School tidaklah hanya diisi oleh satu bidang keilmuan saja. Seperti Frederich Polock, ekonom, leo lowental, sosiolog, erich fromm, psikolog, dan tokoh yang berbeda lainnya. Frankfurt school ini berkembang pesat saat di pegang oleh marx horkheimer, hal ini disebabkan oleh tulisnnya yang berjudul teori tradisional dan teori kritis.
Untuk yang terakhir, langkah-langkah penting untuk membangun School Of Thought. Untuk membangunnya muttlak diperlukan langkah-langkah strategis, menurut penulis buku, maka langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah. Pertama, radikalisasi tradisi mencintai buku. Kedua, radikalisasi tradisi meneliti.

C.    PENUTUP
Ilmuwan-ilmuwan di atas adalah manusia yang sama-sama memberikan konstribusi besar terhadap keilmuan, khusunya dalam bidang Sosiologi. Namun perlu dicatat bahwa walaupun corak pemikiran para ilmuwan-ilmuwan tersenut berbeda-beda, akan tetapi tujuan mereka tetaplah sama, yaitu ingin memberikan yang terbaik bagi orang-orang dikehidupan mereka dan setelah mereka.
Selanjutnya, hal yang cukup urgen adalah bagaimana kita bisa berusaha untuk bisa seperti mereka, walaupun itu sangat sulit, akan tetapi bila mengikuti langkah-langkah yang diberikan oleh penulis buku integrasi sosial pada bab terkhir, bisa saja hal tersebut menjadi kenyataan.